Suasana kantuk berat yang melanda serta materi pelatihan
yang cukup rumit dan memusingkan maka bersegera membuat kopi dengan se sachet
pemanis stevia (bukan promosi loh) tapi inilah sosok istri masa depan yang
dimaksud menurut persepsi saya dalam film yang diperankan Dion Wiyoko dan Tika
Bravania. Waktu setelah istirahat makan siang dengan menu “Sederhana” memang
sangat krusial bagi para pegawai seperti saya dan tentunya kalian juga kan,
butuh mood booster agar performa meningkat kembali. Akhirnya melihat-lihat foto
pas liburan akhir bulan Agustus menjadi pilihan yang cukup tepat sembari
mencoba merekam kembali cerita perjalanannya. Di awali dari nazar kepada istri
dan anak untuk pergi berlibur apabila saya lulus dalam program alih tugas di
tempat kerja dan Alhamdulillah rezekinya saya berhasil melewati serangkaian
acara seleksi dari 72 pegawai yang mengikuti proses seleksi, yang dinyatakan
lulus adalah sebanyak 7 orang. Mulailah browsing tiket pesawat, hotel,
itinerary, tempat wisata dan tempat kuliner untuk mencari kombinasi yang ideal
(alias murah maksudnya). Oh iya untuk destinasi sudah ditentukan dan disepakati
ke Negeri Laskar Pelangi a.k.a Belitong daerah asal Andrea Hirata, Pak Ahok,
dan Prof Yusril ketiga tokoh yang punya kehebatan masing-masing. Start with plane ticket finally I get it from
Bukalapak yang baru mencoba memulai bisnis barunya, dengan tiket PP sebanyak 5
dewasa, 1 anak dan 1 infant ditebus dengan harga tidak lebih dari 3,5 juta. Untuk
tempat peristirahatan 2 malam memilih hotel bintang tiga yang rate/night nya
tidak lebih dari 400 ribu. Dari satu minggu sebelum berangkat juga sudah
booking rental mobil 2 hari lepas kunci dengan sewa per hari atau 24 jamnya 250
ribu. Sabtu maghrib si genmah, mbah uti dan antih gendut udah sampe di harvest
buat persiapan minggu pagi berangkat ke bandara. Malam minggunya hunting tas
koper di ruko samping cluster, lanjut nobar semi final sepak bola SEA Games
Garuda Muda vs Malaysia bareng bapak2 di pos depan gerbang cluster, yang
akhirnya Evan Dimas cs harus menelan brotowali alias kalah tipis 1-0 oleh tuan
rumah. Pulang nobar buka PC buat ngeprint voucher tiket pesawat, hotel,
itinerary, biar mudah perjalanannya. Hari minggu pagi telah tiba semua pasukan sudah
siap dan Mas Agus pun temen gowes sudah datang untuk mengantar ke bandara. Alhamdulillah
perjalanan lancar ke bandara kurang lebih satu jam tiba ke terminal 1 Soekarno
Hatta, proses check in agak kurang okey karena satu pun ngga ada yang
bersebelahan duduknya, tapi syukurnya ngga pake acara delay segala yang konon
maskapai maung mabur ini rajanya ngaret. Tiba di Bandara H. As Hanandjoedin jam
11.30 langsung menuju café hanggar dengan avanza rentalan, 5 menit sampai café beruntung
ketika datang belum terlalu penuh, pesan mie (atep) belitung yang legendaris,
tahu campur, baso ikan dan tentunya es jeruk kunci sebagai penghilang haus
dahaga yang favorit di daerah ini.
Setelah cukup mengisi perut tancap gas ke
belitung timur, kondisi jalanan di Pulau ini bisa dibilang relatif sangat sepi dengan
kondisi jalan yang cukup mulus, Mobil atau kendaraan yang papasan kalau emang
niat bisa dihitung dengan mudah walau jaraknya cukup panjang sekitar +/-80 km. ternyata
jalur yang dilewati melalui jl raya bandara – manggar sehingga melalui kota
manggar dulu. Di perjalanan indikator bensin mulai menipis tapi pom bensin yang
dilewati tidak ada yang buka satu pun, namun warung kelontong yang menjual bensin
cukup banyak, akhirnya berhenti di salah satu warung untuk beli bensin dan air
mineral, ternyata harganya cukup murah walau dibilang jauh dari pusat keramaian
alias kota, untuk satu liter bensin dihargai 7.500 dan satu botol aqua besar
1,5 liter dihargai 5 ribu rupiah saja, woow emezing menurut saya. Destinasi pertama
sampai ke Vihara Dewi Kwan Im lalu lanjut ke Pantai Burung Mandi yang masih
dalam satu lokasi, pantainya cukup bersih dan cantik untuk menghibur hati
setelah perjalanan yang cukup melelahkan. Museum Kata Andrea Hirata menjadi
tujuan setelahnya, tempat yang cocok bagi pecinta sastra bukan bagi saya yang
pecinta sastro hehe cukup foto-foto di depannya tanpa membeli tiket masuk,
setelah itu ke kampung ahok yang hanya berjarak 200 meter dan tidak
berlama-lama menuju replika SD Muhammadiyah Gantong yang tersohor lalu diakhiri
ke rumah keong yang pembangunannya masih dalam tahap pengerjaan.
Senja datang
sambut sang bulan (hayoo tebak lirik lagu apa) bergegas menuju tempat
peristirahatan di belitung barat, weew dalam setengah hari atau 6 jam saja
ujung ke ujung pulau ini terlampaui. Jam 7 malam sampai ke hotel bahamas,
lokasinya relatif strategis dan bangunan yang cukup bagus dan nyaman. Mandi,
bersih-bersih, solat serta istirahat sejenak langsung ke RM Timpok Dulu,
kuliner yang rekomendit di daerah belitong, tidak jauh hanya 2,8 km dari hotel
sampailah dengan selamat dan kondisi lapar. Menu favorit dan praktis disini
adalah satu set dulang kami pesan yang cukup untuk 4 orang, tambah dengan iga
bakar dan menu khas lainnya (lupa saya nama2nya wkwkkk), ternyata sampai
selesai ada sisa makanan yang tidak habis kami minta bungkus dan karena si delu
belum mau makan, beli yeye di warung sebelah juga untuk dibungkus, saya pun
juga beli roti bakar yang juga tidak jauh dari situ. Hari pertama segera ditutup
dengan tidur pulas sesampainya di hotel.
Hari kedua atau senin pagi diawali dengan solat subuh
tentunya setelah itu tiduran sejenak lalu bergegas sarapan, menu yang cukup nikmat
walau tidak banyak pilihan, bermain sebentar di kolam renang hotel yang cukup
asri bisa membuat kaca dan delu merasa senang. Segera menuju destinasi hari
ini, yaitu hooping island di tanjung kelayang, sebelum berangkat isi bahan
bakar dulu di warung persis depan hotel dengan harga yang sama 7.500 per liter,
ternyata di pelosok atau di kota harga BBM di pulau ini sama. Perjalanan setengah
jam berjarak +/- 23 km sampailah ke tujuan, di pintu masuk dengan membayar
cukup 10 ribu rupiah tibalah kami di tanjung kelayang, starting point dari
hooping island. Ada gula ada semut, banyak yang menawari kami untuk sewa kapal,
akhirnya setelah bernego ria terjadilah perjanjian sewa menyewa seharga 400
ribu untuk kapal, life vest 25 ribu/pcs, dan peralatan snorkeling juga 25
ribu/pcs. Senang dan menakjubkan hanya itu kata-kata dan juga tentunya
jepretan-jepretan kamera yang bisa menggambarkan wisata ini. Tidak terasa sampai jam 4 sore atau 5 jam waktu efektif
kami berada di laut dan pulau-pulau di tengah laut (bat.u berlayar, pulau
lengkuas, pulau kepayang). Sore hari kami menuju tanjung tinggi tempat shooting
film laskar pelangi, tak berlama-lama kami segera pulang karena matahari mulai
terbenam. Malam hari kami mencari santapan yang tepat untuk mengisi perut yang
kosong, putar-putar di pusat alun-alun kota atau yang dikenal dengan bundaran
batu satam, pilihan kami ke tempat yang ramai dikunjungi yaitu Angkringan Mas
Gembul, menu jogja di daerah sumatera bagian selatan. Kenyang dan bisa dibilang
begah setelah makan di mas gembul ini karena satu orang dengan lauk bisa sampai
5 jenis (ayam bakar/goreng, lele, sate kikil, sosis bakar, sate telor, dll)
dengan nasi uduk satu porsi masing-masing kecuali saya keto warrior kw hehehe.









































