Selasa, 19 September 2017

Negeri Laskar Pelangi

Suasana kantuk berat yang melanda serta materi pelatihan yang cukup rumit dan memusingkan maka bersegera membuat kopi dengan se sachet pemanis stevia (bukan promosi loh) tapi inilah sosok istri masa depan yang dimaksud menurut persepsi saya dalam film yang diperankan Dion Wiyoko dan Tika Bravania. Waktu setelah istirahat makan siang dengan menu “Sederhana” memang sangat krusial bagi para pegawai seperti saya dan tentunya kalian juga kan, butuh mood booster agar performa meningkat kembali. Akhirnya melihat-lihat foto pas liburan akhir bulan Agustus menjadi pilihan yang cukup tepat sembari mencoba merekam kembali cerita perjalanannya. Di awali dari nazar kepada istri dan anak untuk pergi berlibur apabila saya lulus dalam program alih tugas di tempat kerja dan Alhamdulillah rezekinya saya berhasil melewati serangkaian acara seleksi dari 72 pegawai yang mengikuti proses seleksi, yang dinyatakan lulus adalah sebanyak 7 orang. Mulailah browsing tiket pesawat, hotel, itinerary, tempat wisata dan tempat kuliner untuk mencari kombinasi yang ideal (alias murah maksudnya). Oh iya untuk destinasi sudah ditentukan dan disepakati ke Negeri Laskar Pelangi a.k.a Belitong daerah asal Andrea Hirata, Pak Ahok, dan Prof Yusril ketiga tokoh yang punya kehebatan masing-masing.  Start with plane ticket finally I get it from Bukalapak yang baru mencoba memulai bisnis barunya, dengan tiket PP sebanyak 5 dewasa, 1 anak dan 1 infant ditebus dengan harga tidak lebih dari 3,5 juta. Untuk tempat peristirahatan 2 malam memilih hotel bintang tiga yang rate/night nya tidak lebih dari 400 ribu. Dari satu minggu sebelum berangkat juga sudah booking rental mobil 2 hari lepas kunci dengan sewa per hari atau 24 jamnya 250 ribu. Sabtu maghrib si genmah, mbah uti dan antih gendut udah sampe di harvest buat persiapan minggu pagi berangkat ke bandara. Malam minggunya hunting tas koper di ruko samping cluster, lanjut nobar semi final sepak bola SEA Games Garuda Muda vs Malaysia bareng bapak2 di pos depan gerbang cluster, yang akhirnya Evan Dimas cs harus menelan brotowali alias kalah tipis 1-0 oleh tuan rumah. Pulang nobar buka PC buat ngeprint voucher tiket pesawat, hotel, itinerary, biar mudah perjalanannya. Hari minggu pagi telah tiba semua pasukan sudah siap dan Mas Agus pun temen gowes sudah datang untuk mengantar ke bandara. Alhamdulillah perjalanan lancar ke bandara kurang lebih satu jam tiba ke terminal 1 Soekarno Hatta, proses check in agak kurang okey karena satu pun ngga ada yang bersebelahan duduknya, tapi syukurnya ngga pake acara delay segala yang konon maskapai maung mabur ini rajanya ngaret. Tiba di Bandara H. As Hanandjoedin jam 11.30 langsung menuju café hanggar dengan avanza rentalan, 5 menit sampai café beruntung ketika datang belum terlalu penuh, pesan mie (atep) belitung yang legendaris, tahu campur, baso ikan dan tentunya es jeruk kunci sebagai penghilang haus dahaga yang favorit di daerah ini. 

Setelah cukup mengisi perut tancap gas ke belitung timur, kondisi jalanan di Pulau ini bisa dibilang relatif sangat sepi dengan kondisi jalan yang cukup mulus, Mobil atau kendaraan yang papasan kalau emang niat bisa dihitung dengan mudah walau jaraknya cukup panjang sekitar +/-80 km. ternyata jalur yang dilewati melalui jl raya bandara – manggar sehingga melalui kota manggar dulu. Di perjalanan indikator bensin mulai menipis tapi pom bensin yang dilewati tidak ada yang buka satu pun, namun warung kelontong yang menjual bensin cukup banyak, akhirnya berhenti di salah satu warung untuk beli bensin dan air mineral, ternyata harganya cukup murah walau dibilang jauh dari pusat keramaian alias kota, untuk satu liter bensin dihargai 7.500 dan satu botol aqua besar 1,5 liter dihargai 5 ribu rupiah saja, woow emezing menurut saya. Destinasi pertama sampai ke Vihara Dewi Kwan Im lalu lanjut ke Pantai Burung Mandi yang masih dalam satu lokasi, pantainya cukup bersih dan cantik untuk menghibur hati setelah perjalanan yang cukup melelahkan. Museum Kata Andrea Hirata menjadi tujuan setelahnya, tempat yang cocok bagi pecinta sastra bukan bagi saya yang pecinta sastro hehe cukup foto-foto di depannya tanpa membeli tiket masuk, setelah itu ke kampung ahok yang hanya berjarak 200 meter dan tidak berlama-lama menuju replika SD Muhammadiyah Gantong yang tersohor lalu diakhiri ke rumah keong yang pembangunannya masih dalam tahap pengerjaan. 










Senja datang sambut sang bulan (hayoo tebak lirik lagu apa) bergegas menuju tempat peristirahatan di belitung barat, weew dalam setengah hari atau 6 jam saja ujung ke ujung pulau ini terlampaui. Jam 7 malam sampai ke hotel bahamas, lokasinya relatif strategis dan bangunan yang cukup bagus dan nyaman. Mandi, bersih-bersih, solat serta istirahat sejenak langsung ke RM Timpok Dulu, kuliner yang rekomendit di daerah belitong, tidak jauh hanya 2,8 km dari hotel sampailah dengan selamat dan kondisi lapar. Menu favorit dan praktis disini adalah satu set dulang kami pesan yang cukup untuk 4 orang, tambah dengan iga bakar dan menu khas lainnya (lupa saya nama2nya wkwkkk), ternyata sampai selesai ada sisa makanan yang tidak habis kami minta bungkus dan karena si delu belum mau makan, beli yeye di warung sebelah juga untuk dibungkus, saya pun juga beli roti bakar yang juga tidak jauh dari situ. Hari pertama segera ditutup dengan tidur pulas sesampainya di hotel.


Hari kedua atau senin pagi diawali dengan solat subuh tentunya setelah itu tiduran sejenak lalu bergegas sarapan, menu yang cukup nikmat walau tidak banyak pilihan, bermain sebentar di kolam renang hotel yang cukup asri bisa membuat kaca dan delu merasa senang. Segera menuju destinasi hari ini, yaitu hooping island di tanjung kelayang, sebelum berangkat isi bahan bakar dulu di warung persis depan hotel dengan harga yang sama 7.500 per liter, ternyata di pelosok atau di kota harga BBM di pulau ini sama. Perjalanan setengah jam berjarak +/- 23 km sampailah ke tujuan, di pintu masuk dengan membayar cukup 10 ribu rupiah tibalah kami di tanjung kelayang, starting point dari hooping island. Ada gula ada semut, banyak yang menawari kami untuk sewa kapal, akhirnya setelah bernego ria terjadilah perjanjian sewa menyewa seharga 400 ribu untuk kapal, life vest 25 ribu/pcs, dan peralatan snorkeling juga 25 ribu/pcs. Senang dan menakjubkan hanya itu kata-kata dan juga tentunya jepretan-jepretan kamera yang bisa menggambarkan wisata ini. Tidak terasa  sampai jam 4 sore atau 5 jam waktu efektif kami berada di laut dan pulau-pulau di tengah laut (bat.u berlayar, pulau lengkuas, pulau kepayang). Sore hari kami menuju tanjung tinggi tempat shooting film laskar pelangi, tak berlama-lama kami segera pulang karena matahari mulai terbenam. Malam hari kami mencari santapan yang tepat untuk mengisi perut yang kosong, putar-putar di pusat alun-alun kota atau yang dikenal dengan bundaran batu satam, pilihan kami ke tempat yang ramai dikunjungi yaitu Angkringan Mas Gembul, menu jogja di daerah sumatera bagian selatan. Kenyang dan bisa dibilang begah setelah makan di mas gembul ini karena satu orang dengan lauk bisa sampai 5 jenis (ayam bakar/goreng, lele, sate kikil, sosis bakar, sate telor, dll) dengan nasi uduk satu porsi masing-masing kecuali saya keto warrior kw hehehe. 






















The last day in Belitong but not least, cuaca diguyur hujan yang cukup deras, jam 9 mulai reda dan kami segera check out dari hotel langsung menuju danau kaolin, karena cuaca penampakan menjadi kurang indah langsung menuju m pusat oleh-oleh di BnB dekat alun-alun, setelah itu ngupi di kopi ake dan mie atep yang “asli” di bundaran satam. Destinasi terakhir adalah pantai Tanjung Pendam setelah dari Museum Tanjung Pandan. Tiba waktunya untuk pulang ke harvest dengan pesawat 14.55, wisata Laskar Pelangi de Belitong yang sangat menyenangkan dan cukup ramah di kantong.






Senin, 10 Oktober 2016

Hidup Baru (Hidup)



Tulisan ini dibuat engga lebih dan tidak kurang seminggu setelah si maming resign, loh berarti pas maming masih kerja saya jadi vampir gitu. Eitss tunggu dulu, judul itu mirip packing atau bungkusan, dibuka dulu bungkusnya baru deh tau barangnya. Sebenarnya sih nulis juga biar engga keliatan mandek2 banget blog ini, udah hampir setengah tahun ngga ada tambahan postingan engga produktif banget sih blogger satu ini hahaha. Tapi momennya pas banget emang, pertama yg bilang saya sebelumnya karena si maming resign dan seharian baca blog artis muda yang bagi saya cukup menginspirasi, langsung aja sejam sebelum bel pulang ngetik tulisan ini. Oke mulai bahasan ke topik judul ya, ketika menikah dengan maming desember 2010 kami memutuskan langsung ngontrak rumah baru, nah pas si kakamaru mau lahir desember 2011 kita pindah ke rumah org tua sampai sekarang detik saya mengetik ini. Kehidupan ketika ngontrak hanya berdua pas baru nikah itu engga mudah, ada aja yang dilihat masing-masing itu engga pas yang ujung2nya ya diem2an alhamdulillah sih engga pernah sampe ribut2 banting piring apalagi uang hehe. Hidup dengan orang tua dan adanya anak mulai agak jarang diem2annya ya sedikit terkontrol supaya keliatan baik di depan orang tua dan juga anak tentunya. Nah tahun 2016 ini si dede gaba lahir dan kami memutuskan untuk pindah ke rumah sendiri setelah maming resign. Insya Allah mulai beres2 dan rapih2in rumah yang udah 5 thn lebih dibeli tp belum pernah semalem pun diinepin. Perjalanan pernikahan lebih dari 5 thn juga insya Allah modal yang cukup buat kami hidup mandiri, ya alias masak dan nyuci sendiri hehe. Banyak impian saya nanti di rumah baru, punya hewan peliharaan, bisa solat malem berjamaah, punya perpustakaan dan lainnya. Semoga Allah memberikan kelancaran dan kebarokahan buat kami di rumah yang baru Aamiin.